Rabu, 11 Januari 2012

Kisah Cinta SMA

Masa-masa di SMA adalah masa puberitas bagiku, masa disaat aku mulai merasakan perkembangan mental dan perasaan termasuk yang sering disebut orang cinta, meskipun tidak tahu persis apakah cinta itu cinta sejati atau hanya cinta monyet, berikut kisahnya :

Cinta Yang Tak Tersampaikan (to HAN)
Saat aku duduk di kelas 2 SMA aku menyukai seorang siswi, dia adik kelasku, entah saat itu perasaanku berbeda kepadanya. Ketika aku bertemu dengannya hatiku berdebar tak menentu, saat aku tatap matanya terasa sesuatu menusuk di jantungku.

Tapi sungguh saat itu aku belum terbiasa mengungkapkan perasaan, sehingga sekian lamanya aku pendam sampai dia pun berhenti dari sekolahku. Saat itu aku hanya bisa mengaguminya, menaruh simpati padanya tapi tak berani mengutarakan apa yang aku rasakan sebenarnya. Aku hanya berharap dia tahu perasaanku dengan melihat sikapku padanya yang selalu grogi, sedikit menyapa dan mencoba untuk bisa berdekatan.

Sayang, semua usahaku untuk meraih simpati dan cintanya tak berbuah. Ternyata temanku pun menyukainya dan dia lebih berani dibanding aku dalam mengutarakan perasaan. Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan melihat dia bersama dengan orang lain, hanya beberapa teman sekelaskulah yang tahu akan hal ini.

Kisah Cinta 22 Hari (to RAN)

Saat itu aku kelas 3 SMA dan menjabat sebagai wakil ketua MPK di sekolahku, alhamdulillah prestasiku tidak mengecewakan selama duduk di bangku SMA. Penerimaan siswa baru pun telah datang dan aku mendapat tugas sebagai panitia MOS. Selama 3 hari aku dan teman-temanku menjalankan tugas untuk mengisi masa orientasi tersebut.

Setelah MOS usai aku mulai belajar seperti biasanya. Aku tak sadar dengan kisah cinta lamaku yang berlalu begitu saja, karena aku tidak tahu kalau siswi yang dulu aku cintai ternyata sudah tidak sekolah lagi di tempatku sekolah.

Setelah kisah lama hilang begitu saja, tanpa aku sadari juga perasaanku menaruh simpati kembali kepada seorang siswi lagi, dia siswi baru di kelas 1 SMK yang masih satu lembaga dengan sekolahku. Siswi tersebut adalah masih saudara teman sekelasku.

Pacarku Diambil Orang (to MY)
Dia biasa dipanggil MY, seorang siswi kelas 2 SMP di Jakarta. Kisah cinta ku dengannya berawal dari kedekatan layaknya sebagai teman curhat bersama dengan beberapa teman seasramanya. Seiring waktu berjalan ternyata ada rasa yang tak diundang hadir ke dalam hatiku dan mulai memberikan perhatian khusus kepadanya.

Sebelum aku mengutarakan perasaanku aku berfikir apakah mau seorang siswi SMP menjalin hubungan dekat (pacaran) dengan lelaki   seusiaku yang sudah hampir 2 tahun telah lulus dari bangku SMA. Perbandingan usiaku dengannya saat itu 20 : 15 tahun, biasanya menurut hematku cewek seusia dia lebih suka berpacaran dengan yang seusianya atau teman sekelasnya. Dengan rasa malu aku pun mencoba mendekatinya dengan perantara teman seasramanya, dan atas bantuan temannya itu aku pun bisa menyampaikan ungkapan hatiku meski hanya melalui surat.

Setelah dia menerima dan membaca surat dariku, beberapa hari kemudian tepatnya usai liburan sekolah dia menemuiku bersama temannya yang aku titipin surat dan menanyakan maksud isi surat yang aku tulis dan aku titipkan kepada temannya. Dia pun bertanya : "apa maksud surat itu dan untuk siapa?".

Aku jawab dengan hati tak menentu : "kalau kamu percaya, aku menulis surat itu untuk kamu", dia pun menyahut : "aku cuma gak mau kegeeran aja, ya udah kalau begitu". Tak banyak percakapan saat itu, intinya dia memberikan isyarat bahwa dia menerima cintaku dan mulai saat itu status kita berhubungan dekat (pacaran).

Perjalanan hubunganku dengannya penuh warna suka duka, cemburu dan rindu, curiga dan saling meyakinkan hingga sampailah setahun aku melaluinya dan dia naik kelas 3 SMP. Jika ada kesalahfahaman kami segera memberikan penjelasan satu sama lain, bahkan kami sempat mengukir janji dalam satu catatan ikrar di atas selembar kertas dengan kalung cinta sebagai saksi. Kami telah bersepakat akan menjalani hubungan ini sampai menikah nanti. Dalam hubunganku dengannya kita selalu berbagi, apa yang aku bisa berikan untuknya aku berikan, apa yang aku bisa lakukan untuknya aku pun lakukan demikian pun dengannya.

Mungkin karena aku yang terlalu sayang padanya, semakin lama aku semakin takut kehilangannya. Aku jadi sedikit mengekang pergaulannya secara kalimah, aku tak mengizinkan dia terlalu akrab dengan laki-laki lain. Seharusnya dia menyadari itu adalah bagian dari cintaku, tapi mungkin dia berpandangan lain dan dia pun malah mencoba mengkhianati cintaku dengan menjalin hubungan secara diam-diam dengan laki-laki lain.

Ketika aku mengetahuinya aku pun segera bertindak dan membicarakan secara baik-baik dengannya. Yang paling membuat aku sakit hati adalah ketika dia mengatakan di hadapanku kalau dia tak bisa bohongi perasaannya sendiri bahwa dia juga sayang kepada lelaki itu. Aku hanya bisa menarik nafas dalam dan menasihatinya serta minta ketegasan, apakah jalan selanjutnya yang akan dia pilih.

Dengan tampak bingung dia pun memilih keputusan untuk menyendiri dulu dan memutuskan aku juga lelaki itu. Dalam kondisi seperti ini aku tak tega melihat dia nampak murung dalam kesehariannya, dan aku menyadari kalau aku sangat sayang kepadanya. Dengan penuh rasa syang aku mencoba mengajaknya bertemu dan membicarakan hal penting tentang arti suatu hubungan.

Aku pun menjadi sangat khawatir kepadanya ketika aku baru mengetahui lelaki yang mencintainya itu tidaklah benar-benar tulus, dia hanya ingin memperdaya saja, karena aku tahu lelaki itu ternyata punya banyak pacar. Atas penyampaian ku tentang itu dia pun memahami dan menyadarinya, dan dia pun ingin kembali menjalani hubungan denganku secara serius. Dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Setelah peristiwa itu berlalu maka aku kembali menjalani hubungan baik lagi dengannya. Tapi karena dirasakan banyak ketidaknyamanan bagiku dalam menjalani hubungan dalam satu lokasi, aku memiliki satu keputusan yang mungkin agak berat bagi kami, demi masa depan dia aku mengundurkan diri dari pekerjaanku di tempat dia sekolah dia dan aku pindah ke tempat lain.

Meskipun kita sudah berjauhan tempat tapi kita tetap saling berkomunikasi dan jika ada waktu senggang kita bertemu sesekali untuk saling menguatkan hati masing-masing agar saling percaya dan bisa jaga kesetiaan.

Tapi rupanya jarak yang jauh dan pertemuan yang jarang membuat pacarku saat itu menjadi curigaan dan diapun mengira aku berselingkuh, dan ternyata dalam pandangannya seperti itu diapun menjalani hubungan dengan orang lain tanpa setahuku.

Beberapa temannnyalah yang memberitahuku dan firasatkulah yang membuatku yakin kalau dia sudah tak setia lagi, kemudian akupun mencoba untuk cari yang lain saja. Sudah 2 kali hubunganku dengannya putus nyambung dan untuk yang ketiga kalinya dia menerima lamaran dari orang lain.

Aku hanya bisa menahan sakit hati dan kecewa, sedangkan dia sudah tak pedulikan janjinya yang dulu terucap, aku mulai saat itu hampir gak percaya lagi yang namanya cinta kepada lawan jenis dan aku gak mau terluka lagi. Diapun selepas lulus SMA nya menikah dengan pria itu dan aku hanya bisa menyimpan kesabaran dalam hidupku karenanya


Apakah Dia Pacar Terakhirku ? (to WIN)
Pertemuanku dengan gadis ini adalah pertemuan yang berawal dari dunia maya, meskipun kita sebenarnya masih satu kota tapi kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Dan kita baru pertama kali berkenalan di dunia FACEBOOK (fb).

Awalnya kita hanya sharing dan curhat-curhatan saja, tapi lama kelamaan rasanya aku ingin merubah status lajangku di fb menjadi bertunangan atau berpacaran agar mantanku bisa melihat aku juga bisa mendapatkan penggantinya.

Nasib baik saat itu statusnya ternyata baru berpisah dari pacarnya sehingga dia mau menerima permintaan hubungan status di fb menjadi bertunangan. Semakin lama kita semakin dekat dan semakin akrab, akhirnya aku mencoba mengajak ketemuan dengannya pada saat aku pulang kampung di sela-sela kerjaku di Jakarta.

Pertemuan yang sangat cepat dan respon yang begitu baik, chemistry pun diantara kita seketika tumbuh, merasa saling cocok dan bisa menerima apa adanya. Pertemuan pertama yang mengesankan membuat kita selalu mengenangnya. Demikian cepat perjalanan hubunganku dengannya karena dasar cinta dan niat dalam diriku untuk memiliki seorang isteri bukan seorang pacar lagi, maka aku meminta saran kepada keluargaku untuk melamarnya.

Keluargaku pun menyetujuinya dan dengan segera aku pun bersama keluarga datang untuk melamarnya, dan aku sangat bersyukur lamaranku diterima dengan senang hati. Dan mulai saat itu status kita bertunangan sungguhan.

Dalam status ini keluargaku menginginkan agar aku segera menikahinya dan merekapun mendatangi keluarga dia untuk menyatakan maksud akhir dari suatu hubungan yaitu pernikahan, tapi rupanya keluarga dia belum siap menerima keinginan keluargaku dan akhirnya aku pun diminta menunggu beberapa bulan lagi.

Dalam masa penantian ini aku sering dikhawatirkan dengan berbagai rasa yang tak menentu, cemburu dan curiga selalu menghantui pikiranku. Ternyata berbagai perasaan ini menjadi pertanda kalau dia orang yang ku sayang dan ku dambakan selama ini telah berkhianat dan bertemu dengan laki-laki lain hingga akhirnya kejadian ini menjadi kabar yang sangat memukul perasaanku. Aku sempat terjatuh sakit karena menahan rasa sakit hati dan kecewa yang sangat dalam akibat ulahnya.

Dan mungkin ini menjadi awal berakhirnya hubungan kami, karena aku tak mungkin lagi bersamanya setelah dikhianati untuk ke sekian kalinya dalam berhubungan, padahal aku sudah serius dan mencoba untuk tidak berpaling hati.

Menumbuhkan Cinta Yang Tak Pernah Ada (to De2)
Kisah ini berawal dari rasa sakit hati yang dalam dan mencoba mencari obat penawar atas luka yang kian perih.

Aku dikenalkan dengan gadis ini oleh temanku yang memang sudah menikah dengan teman sekampungnya dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar